KUP UNTUK PENINGKATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT

Usaha kecil menengah (UKM) merupakan pilar kekuatan ekonomi masyarakat. Namun keberadaanya masih dianggap memiliki moral hazard (perilaku) yang kurang baik bagi perbankan. Sehingga ketika pengajuan kredit usaha, harus menyertakan agunan/jaminan. Bahkan, lebih banyak di antara mereka yang tidak tersentuh oleh perbankan. Pemerintah telah meluncurkan program kredit usaha rakyat (KUR) beberapa tahun silam. Namun dalam praktik di lapangan, penerima KUR banyak yang belum tepat sasaran karena kurangnya validasi data yang akurat. Bidang usaha yang mendapatkan kredit pun masih terbatas. Umumnya hanya bidang jasa dan perdagangan. Bahkan pembinaan dan pendampingan dinilai belum maksimal.

Untuk itulah, Bupati Kudus H. Musthofa memiliki gagasan sebagai penyempurnaan program kredit tersebut yaitu dengan program kredit usaha produktif (KUP) yang akan memberikan kredit modal bagi UKM. Dengan bunga pinjaman yang lebih murah (sekitar 6% per tahun), KUP menyentuh usaha mikro produktif tanpa agunan. Dengan nilai pinjaman bervariasi hingga angka Rp. 20 juta. Ada 4 kategori kartu untuk berbagai bidang usaha. Masing-masing memiliki kelas jumlah maksimal pinjaman yang berbeda. Keempat kartu tersebut adalah, merah untuk pinjaman maksimal Rp. 5 juta, biru maksimal Rp. 10 juta, hijau maksimal Rp. 15 juta, dan abu-abu maksimal Rp. 20 juta. p>

Untuk bisa menerima pinjaman program KUP ini, sebelumnya harus ada verifikasi data UKM yang ada. Melalui desa, kecamatan, dan dinas terkait, data tersebut harus benar-benar valid hingga akhirnya bisa terbit kartu sebagai identitas penerima KUP. Dan camat setempat berperan sebagai pembina/bapak asuh usaha kecil tersebut.



KONDISI PEREKONOMIAN KABUPATEN KUDUS

Dengan kondisi geografis terletak pada persimpangan jalur transportasi utama Jakarta-Semarang-Surabaya dan Jepara-Grobogan, Kabupaten Kudus merupakan wilayah yang sangat strategis dan cepat berkembang serta memiliki peran utama sebagai pusat aktivitas ekonomi yang melayani wilayah hinterland, yaitu kabupaten di sekitarnya.Potensi ekonomi suatu daerah khususnya sektor perdagangan dapat diketahui dari banyaknya pasar yang ada.

Pasar merupakan media pertemuan antara penjual dan pembeli, sehingga makin ramai transaksi terjadi berarti makin tinggi pula potensi sektor perdagangan. Data dari Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Kabupaten Kudus, pada tahun 2014, terdapat 53 pasar modern, 6 buah pasar daerah, 22 buah pasar desa dan 2 buah pasar hewan. Jumlah tersebut merupakan jumlah yang cukup besar jika di bandingkan dengan jumlah kecamatan yang ada, atau rata-rata per kecamatan ada sekitar 3 sampai 4 buah pasar. Banyaknya penyaluran gas 3 kg berdasarkan data BPS, selama tahun 2014 sebanyak 6,07 juta tabung.

Kekayaan Industri Kabupaten Kudus

Kabupaten Kudus merupakan kabupaten kecil yang mempunyai banyak industri yang berkembang di masyarakat baik itu skala besar, menengah maupun industri kecil. Data yang diperoleh dari Dinas Perindagkop pada tahun 2014 menyatakan ada 12.938 buah perusahaan industri/unit usaha di kabupaten Kudus. Angka tersebut mencakup seluruh perusahaan (unit usaha) industri baik yang besar/sedang ataupun industri kecil/rumah tangga.

Kondisi ekonomi Kabupaten Kudus dapat dilihat pada indikator-indiktor ekonomi,, antara lain : PDRB, pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan PDRB per kapita. Dinamika pertumbuhan ekonomi yang menggambarkan pergerakan perekonomian di Kabupaten Kudus.PDRB sebagai salah satu indikator makro dalam menilik keberhasilan pembangunan. Walaupun tolak ukur ini mulai bergeser pada tolak ukur penduduk miskin, akan tetapi pertumbuhan ekonomi memiliki kaitan erat dengan pemerataan pembangunan yang pada akhirnya berpengaruh pula terhadap jumlah penduduk miskin.


Indikator pendapatan penduduk dapat dilihat melalui besarnya pendapatan regional perkapita penduduk. Dengan semakin besarnya PDRB suatu daerah diharapkan pendapatan penduduk daerah tersebut akan bertambah tinggi. Secara umum pola perekonomian di Kabupaten Kudus untuk tahun 2014 tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana sektor perdagangan, hotel dan restoran sebagai penyumbang kedua setelah sektor industri, diikuti sektor pertanian.